Mereka yang ‘Hidup’ di Rumah Sakit…

Sore itu, aku dan beberapa teman bergegas dari kantor untuk menuju ke sebuah stasiun di bilangan Jakarta Pusat. Kami berencana untuk menjenguk salah satu teman yang lain yang sedang sakit. Perjalanan menuju stasiun tersebut tidak cukup lama, hanya butuh waktu sekitar 10-15 menit saja.

Sesampainya di sana, kami segera membeli tiket untuk menuju ke stasiun terdekat dengan rumah sakit di mana temanku dirawat. Tidak lama kemudian, kereta yang akan kami tumpangi datang, dan kami segera bergegas. Sepanjang perjalanan, kami banyak berbicara mengenai satu dan lain hal di dalam kereta. Perjalanan dengan kereta juga cukup lancar saat itu. Beruntung kami tidak harus menunggu kereta jarak jauh yang ingin mendahului.

Sesampainya di stasiun tujuan, stasiun akhir dari rute kereta tersebut, kami berjalan keluar stasiun dan menyusuri jalan raya menuju rumah sakit, yang berjarak tidak jauh dari sana. Beberapa  bulan sebelumnya, aku memang pernah mengunjungi rumah sakit ini untuk menjenguk salah seorang kerabat ibuku. Dan kenangan itu terlintas lagi di bayanganku.

Dulu, aku datang ke rumah sakit ini bersama ibu dan adik laki-lakiku. Pertama kali datang, waktu itu hari masih siang. Tapi saat ini, kedua kalinya aku ke sini, hari sudah menjelang maghrib. Matahari sudah mulai beranjak turun perlahan.

Menginjakan kaki saat mulai memasuki gerbang rumah sakit ini, aku di sambut dengan pohon beringin yang berdiri tegak menjulang, dan besar tepat persis di depan gerbang. Ada yang berlari menyambutku datang. Aku pernah bertemu dengannya dulu. Tapi waktu itu, dia belum mengenalku. Dia hanya terkaget-kaget saat mengetahui aku bisa melihatnya. Tapi kini, ‘gadis kecil’ itu terlihat senang melihatku lagi setelah beberapa lama.

“Kamu ke sini lagi?!” ujarnya saat menghampiriku. Kubalas dengan senyum saat itu.

Kami melanjutkan langkah kami menyusuri lorong rumah sakit perlahan-demi perlahan. Keringat dingin perlahan meluncur deras dari dahi dan hampir sekujur tubuhku. Dan semakin deras sesat kami berhenti di depan lift, dan pintu lift terbuka.

“Apa aku harus naik tangga saja ya? Tapi temanku berada di lantai 4. Pasti sangat melelahkan sekali,” pikirku dalam hati setelah melihat apa yang sedang menantiku di dalam lift tersebut.

Aku putuskan untuk memaksa diriku memasuki lift itu. Namun aku memilih untuk tidak berdiri di dekat ‘mereka’. Ya, ‘mereka’. Lift tersebut berkapasitas untuk 10 orang. Namun, setelah diisi oleh hanya 6 orang, aku bersama ketiga temanku yang lain, dan dua orang pengunjung rumah sakit, lift tersebut membunyikan tanda bahwa lift telah ‘FULL’. Mungkin memang tidak masuk akal. Bahwa ‘mereka’ yang di dalam sana memiliki massa. Tapi, hal ini terjadi.

Perasaanku sangat berkecamuk saat itu. Sungguh tidak karuan. Mereka memiliki bau yang sungguh sangat tidak sedap. Bau anyir begitu semerbak di dalam lift itu. Aku tidak mau berkomentar satu kata pun mengenai mereka, sejujurnya. Rasa takut bercampur dengan iba sangat menyelimutiku saat itu. Keadaan mereka sangat memprihatinkan. Kupikir, mereka adalah mantan pasien rumah sakit ini yang meninggal karena kecelakaan. Luka yang masih menganga serta darah yang masih menempel di tubuh mereka membuatku iba melihatnya. Tapi tatapan mereka yang begitu tajam sungguh membuat nyaliku ciut dibuatnya. Mereka seakan-akan ingin menerkamku saat mata kami menangkap sosok satu sama lain. Tidak, kali ini aku tidak akan mendefinisikan bentuk mereka seperti apa. Aku saja tidak sanggup berkata-kata, miris sekali melihat kondisi mereka.

Setelah sampai di lantai yang kami tuju, aku bergegas keluar dari lift tersebut. Dan kami melanjutkan perjalanan menyusuri lorong kamar rawat inap tempat di mana temanku dirawat di sana. Perutku terasa mual. Hal ini biasa terjadi apabila energiku berbenturan dari energi negatif dari ‘mereka’ yang ada di sana. Apalagi ditambah bau anyir yang menusuk saat di lift tersebut. Hingga keringat dingin kembali menurun deras dari dahiku.

Ada satu hal yang aneh saat aku sampai di kamar temanku tersebut. Aku melihat sosok nenek-nenek sedang berdiri di depan pintu kamar. Nenek itu tampak tersenyum. Tapi jujur, saat itu aku tidak mengira kalau nenek tersebut adalah salah satu dari golongan ‘mereka’. Penampakannya begitu sempurna. Seperti pasien rumah sakit pada akhirnya. Hingga suatu ketika….

“Kemaren, pasien di sebelah kiri gue ini baru aja meninggal. Bikin gue nggak bisa tidur sih. Agak merinding juga kalau ngebayanginnya. Ditambah lagi pas malemnya gue tidur, pas gue dengerin lagu pakai headset, itu gue samar-samar denger suara orang ngaji. Padahal volumenya udah gue maksimalin. Mungkin karena gue masih kebayang keluarganya pasien di sebelah gue ini yang ngajiin kali ya,” temanku bercerita mengenai pengalamannya di sana.

“Tapi jelas banget soalnya suaranya. Samar-samar tapi gue yakin itu ngaji. Sampe gue baru bisa tidur pas menjelang pagi. Serem sih,” lanjutnya lagi.

Saat ia selesai bercerita, sang nenek yang kulihat di depan pintu itu tiba-tiba muncul dari balik gorden pembatas tempat tidur temanku dan pasien yang meninggal di sebelahnya. Padahal gorden dalam keadaan tertutup rapat saat itu. Sontak aku terkejut. Dan memalingkan pandanganku dari gorden tersebut. Inilah yang membuatku tersadar kalau nenek tersebut berbeda.

Jantungku mulai berdegup kencang. Pikiranku mulai tidak fokus. Nenek itu masih di sebelahku mendengarkan kami bercerita.

“Ya, namanya juga sudah tua ya. Kalau nggak salah umurnya 73 tahun,” tambah ibunya temanku yang dirawat.

Aku menengok ke arah nenek, dan nenek itu tersenyum kepadaku. “Apa mungkin yang dimaksud pasien yang baru meninggal itu si nenek ini ya?” pikirku lagi. Dan si nenek masih berdiri di sana. Di sebelah ranjang temanku, di dekat gorden pembatas mereka, dan tetap tersenyum.

Bahkan, hingga akhirnya kami harus berpamitan karena jam besuk pasien telah selesai, nenek itu masih di sana dan ikut serta mengantar kami keluar dari kamar. Namun anehnya, aku sudah tidak lagi merasa takut pada nenek tersebut.

“Damai di sana ya, Nek,” pesanku dalam hati sambil tersenyum padanya sebelum pergi.

/

 

Advertisements

Mata Ketiga #9

Holaaa!!

Ya ampun, rasanya sudah lama sekali tidak update cerita di blog ini karena pekerjaan yang lagi hecticnya di akhir tahun. Sudah rindu juga menulis di blog sendiri dan sudah banyak yang tagih cerita (hehehehe so sorry :p). Btw, cerita kali ini, aku sedikit mau meneruskan cerita sebelumnya mengenai sosok Anggraeni. Lanjut ya…


Lama sekali rasanya aku membutuhkan waktu untuk mendekati sosok gadis remaja yang sedang mendekati senior sekolahku ini. Anggraeni, itulah nama sosok hantu perempuan pertama yang berani kudekati. Sebelumnya, tidak pernah sekalipun aku berani mendekat hingga berkomunikasi dengan sosok hantu, apalagi hantu perempuan.

Tubuhku bergetar hebat saat pertama kali melihatnya dengan sangat dekat. Apalagi memaksakan diri untuk berkomunikasi dengan beliau. Perlahan aku mendekati sosok beliau yang berjarak tidak lebih dari 2 meter di depanku. Selangkah demi selangkah. Kukepalkan kedua jariku menyembunyikan ketakutanku di hadapan Pak G, yang sedari tadi mendampingiku dan memberikan support agar aku berani untuk berkomunikasi dengan sosok ini agar Kak Dina dapat diselamatkan.

Anggraeni terus menatapku dengan satu mata lantaran mata yang satu lagi tertutupi oleh rambutnya yang panjang terurai dan tak beraturan. Mata itu menatap tajam dan tidak berkedip. Ciyut! Nyaliku ciyut saat menatap matanya. “Sial, kenapa harus pandang-pandangan gini sih.” ucapku dalam hati.   “Jangan lupa ucapkan salam ya, Mika” ujar Pak G dengan suara perlahan memberikan aku instruksi dari belakang. Ku arahkan tangan kananku ke depan sambil tetap melangkah perlahan mengajaknya bersalaman seraya berkata “Hallo Anggraeni. Selamat sore. Assalammualaikum”. Suara yang keluar dari mulutku saat itu tidak kalah bergetarnya dengan tubuhku. Tidak ada sahutan dari Anggraeni. Beliau hanya tetap menatap, membisu, dan sedikit menggerakkan kepala.

“Hallo. Maaf aku mengganggu” ujarku lagi.

“Mau apa kalian” terdengar suara perempuan muda yang sangat pelan dan terdengar lirih serta menyimpan amarah.

“Pak G, katanya dia, kita mau apa di sini” ujarku lagi memberitahu Pak G apa yang disampaikan oleh Anggraeni karena ia tidak bisa berkomunikasi dengan sosok ini.

“Jangan ganggu saya!” teriak Anggraeni lagi.

Pak G mengambil langkah mendekatiku dan Anggraeni dengan langkah pasti dan sambil mengucap doa-doa. “Pergi kamu. Jangan ganggu Dina. Dina ini anak saya. Ini bukan tempat kamu.” kata Pak G dengan suara lantang. Kemudian ia menyuruhku mundur karena melihat tubuhku yang sudah bergetar sangat hebat dan lemas saat itu. Ia memberiku tanda untuk pergi dari tempat itu dan membiarkannya mengusir sosok hantu perempuan ini sendirian.

Aku pergi meninggalkan kamar itu dengan keringat mengucur deras di tubuhku.  Kupikir selesai sudah drama dengan Anggraeni ini. Ternyata belum…..

Kak Dina berteriak-teriak dari dalam kamar. “Dina ini temanku. Aku mau menemani Dina terus. Kasian Dina. Dina kesepian.” teriak Kak Dina tidak sadarkan diri. Pak G terdengar sedang mengusir Anggraeni dari tubuh Kak Dina. Mereka saling berteriak dan Pak G tetap tidak mau mengalah karena memang saat kondisi seperti ini, kita sebagai manusia tidak boleh mengalah dan menuruti sosok hantu yang sedang merasuki.

Selang 20 menit kemudian, sudah tidak terdengar suara lagi. Orangtua Kak Dina masuk ke dalam kamar karena dipanggil Pak G. Kak Dina terlihat sangat lemas dan berkeringat. Pak G memberikannya air yang sudah dibacakan doa dengan tujuan untuk mengembalikan kondisinya ke semula sekaligus memagari tubuh Kak Dina. Aku hanya melihat hal ini dari luar kamar saja karena sudah tidak sanggup lagi berada di dalam sana. Udara sekitar semakin panas, sangat panas malah.

Saat aku berbalik mau berjalan menuju ke ruang tamu yang terletak di samping kamar, tiba-tiba….

“Astagfirullah!!!!!” teriakku.

Sesosok pocong berdiri tidak jauh dariku dengan muka gosong, hitam legam, bekas terbakar, dan bentol-bentol menatapku dari kejauhan. Tingginya tidak lebih dari 2 meter. Baunya sangat menyengat. Bau amis darah dan bekas luka yang terlalu lama dibiarkan hingga membusuk menyeruak di hidungku.

Pak G berlari menghampiriku. Ia segera mengusir sosok pocong tersebut dari hadapanku. Dan ternyata, sosok ini bukan penghuni tetap rumah Kak Dina, ia hanya singgah karena melihat rumah Kak Dina yang saat itu “ramai“. Memang, saat terjadi sesuatu yang berhubungan dengan “mereka” di suatu tempat, banyak sekali yang datang. Mereka memiliki rasa ingin tahu yang tinggi layaknya manusia. Lucu bukan? Bahkan hingga tulisan ini kubuat, aku sudah tidak pernah bertemu Kak Dina. Semoga ia selalu baik-baik saja dengan ‘penjaga’ barunya.

 

Mata Ketiga #8

Selamat malam Jumat lagi, gengs! Malam ini, akan ada yang spesial nih di cerita kali ini. Aku akan menceritakan sosok perempuan yang mengikuti hingga merasuki kakak kelasku, waktu aku bersekolah di salah satu Sekolah Menengah Pertama di Jakarta. Begini ceritanya…

“Mika, kamu ikut saya ya jam 4. Saya sudah minta ijin dengan wali kelas kamu.” ujar seorang guru Matematika di sekolahku, Pak G namanya.

“Ada apa ya, Pak?” jawabku.

“Nanti kita ke rumah Dina, anak kelas 3-3. Orangtuanya butuh bantuan kamu.” Pak G menjawab seraya pergi meninggalkanku yang dihantui pertanyaan.

Tepat pukul 4 sore, aku dan Pak G pergi ke rumah Kak Dina. Rumahnya tidak jauh dari sekolahku, hanya berjarak 300 meter dari sekolah. Sepanjang perjalanan, aku dan Pak G hanya berbincang seputar mata pelajaran di sekolah. Maklum, aku siswa baru saat itu. Mungkin sebagai guru Matematika, Pak G hanya sekadar ingin tahu bagaimana perkembangan pelajaranku di sekolah.

Sejak awal masuk ke sekolah tersebut, Pak G merupakan satu-satunya guru yang dekat denganku. Beliau adalah orang pertama yang mengetahui bahwa aku memiliki anugerah yang berbeda dengan anak-anak lainnya. Tidak seperti guru-guru lain yang memandang sebelah mata terhadapku, bahkan tidak jarang aku mendapat tatapan dan sindiran seakan-akan aku pembohong, Pak G menerimaku selayaknya anak kandungnya. Dan memang hanya Pak G, satu-satunya guru di sekolahku yang memiliki bakat yang sama denganku, hanya sedikit berbeda pada vision kami saja. Jadi hanya ia yang mampu memahami dan mengangani tingkah anehku.

Kurang lebih 10 menit aku berjalan bersama Pak G menuju rumah Kak Dina. Sesampainya di sana aku sedikit terkejut. Ada sesosok wanita yang terbang dari lantai 1 menuju lantai 2 setibanya kami di sana. Rumah bercat putih dengan pohon besar di tengah halaman depan rumah ini memang membuat rumah ini terlihat cukup rindang. Kami disambut baik oleh keluarga Kak Dina. Setelah sedikit berbincang mengenai keadaan Kak Dina kurang lebih 2 minggu ini karena Kak Dina tidak bisa masuk sekolah dengan keadaannya yang tidak sehat dan suka berteriak sendiri, kami diajak masuk ke kamar Kak Dina dan menemuinya.

Kak Dina sedang terduduk di kursi yang berada di pojok kamarnya menghadap ke tembok. Tapi, bukan itu yang menjadi perhatianku. Aku melangkahkan kakiku mundur dari pintu kamar Kak Dina yang sudah terbuka. Ada sesosok wanita yang berdiri di samping Kak Dina. Wanita ini persis seperti wanita yang aku lihat di depan rumah Kak Dina tadi.

Pak G mendekati Kak Dina dan memberikan salam.  “Assalammualaikum, Dina. Ini Bapak dating menjenguk Dina.” salam Pak G. Suasana kamar Kak Dina sangat hening saat itu. Kak Dina tidak menjawab salam Pak G pun tidak menoleh sekalipun.

“Kamu melihat sesuatu di dekatnya, Mika?” tanya Pak G. Pak G tidak memiliki bakat dalam hal vision, tapi beliau bisa membantu menyembuhkan orang yang memiliki gangguan dari mahkluk halus.

“Ada perempuan, Pak. Kayaknya sih sama dengan perempuan yang terbang tadi di depan pas kita sampai. Bapak jangan maju lagi, dia persis berdiri di depan Bapak,” jawabku.

“Baik, kalau begitu kamu bantu Bapak untuk berkomunikasi dengan dia ya.. Assalammualaikum. Kamu siapa? Mengapa mengganggu anak saya?” Tanya Pak G kepada sosok perempuan yang berdiri di depan Pak G.

“Anggraini…” jawab sosok perempuan itu lirih. Mendengar suaranya saja membuatku merinding. Lirihannya menggema di kamar Kak Dina. Sayang, hanya aku saja yang dapat mendengar suara tersebut. Sosok Anggraini tadinya hanya menunduk dan memperlihatkan sebagian matanya saja. Tapi setelah menyebutkan namanya, perlahan-lahan ia mulai menunjukkan wajahnya. Wajahnya sangat kacau. Darah menetes dari sebagai besar wajah hingga lehernya. Bajunya sangat lusuh penuh bercak darah dan tanah. Rambutnya sangat kusut dan terurai hingga mencapai ke perutnya. Tatapannya sangat tajam. Matanya sangat mencerminkan kesedihan dan kemarahan yang amat sangat.

“Aaaaarrrrrgggghhhhh!!!!!!” tetiba Kak Dina berteriak dan menangis. Dan saat itu juga aku tidak melihat sosok Anggraini. Pak G dengan sigap langsung mendekati Kak Dina dan membuatnya tenang dengan ayat suci Alquran yang dibisikan ke kupingnya. Jujur, saat itu aku bingun harus bagaimana. Aku sangat takut masuk ke kamar Kak Dina, tetapi dalam hati aku juga ingin membantu Pak Gita menenangkan Kak Dina yang saat itu memberontak dan berteriak-teriak.

Tiba-tiba….

“Pergi kamu!” bisik perempuan dengan suara lirih terdengar jelas di telinga kananku. Bulu kudukku berdiri. Aku terpaku. Seluruh tubuhku bergetar. Aku takut saat itu. Aku merasakan ada seseorang yang berdiri di samping kananku. Ragu-ragu, aku menoleh ke kanan, dan….

MATA ANGGRAINI TEPAT DI DEPAN MATAKU. MATA MERAH ITU TAJAM MENATAPKU. BAU AMIS DARI DARAHNYA PUN SANGAT MENYENGAT MENUSUK HINDUNGKU….

“Aaaaarrrgggghhhh!!!” aku berteriak dan kemudian tidak sadarkan diri, hingga terbangun di kamarku beberapa jam setelah kejadian tersebut.

Mata Ketiga #7

Selamat malam Jumat, semua! Mata Ketiga dalam part kali ini, aku akan meneruskan cerita pengalaman di kampusku lagi ya (Kok cerita di hunian baru nggak diterusin lagi sih, Mik? Soalnya aku belum mengeksplore lebih dalam hunian baruku ini, tunggu ya).

Dalam part sebelumnya, aku berjanji akan menceritakan lebih dalam kehidupan lain di kampus kuning ini kan ya. Nah cerita kali ini aku akan membahas mengenaj salah satu gedung di kampus ini yang bisa menampung hingga 5000 orang saat prosesi wisuda.

Sebagai maba (mahasiswa baru) di fakultas yang membolehkan mahasiswanya mengenakan kaos oblong, sandal jepit, hingga you-can-see, ada salah satu ritual yang wajib kami ikuti sebagai anak tahun pertama. Ritual ini adalah ajang unjuk bakat dalam seni peran yang saling diadu antar jurusan. Biasanya dalam ritual ini, kami, maba akan dilatih secara ekstra oleh senior-senior kami agar dapat tampil semaksimal mungkin saat lomba nanti, yang biasanya diadakan dari petang hari hingga tengah malam dengan ribuan penonton dr seluruh penjuru kampus.

Waktu sudah semakin dekat dengan hari H. Latihan diadakan setiap hari hingga malam hari. Peran demi peran dilakoni hingga mendapatkan kecocokan dengan karakter yang dimiliki. Dan aku? Kalian tahu aku dapat peran apa? Huft…. KUNTILANAK. Awalnya sih bete, “kenapa jadi dapet peran ini sih?” gumamku dalam hati. Tapi apa boleh buat karena harus bersikap professional, kudalami saja peran ini.

Malam itu, kami latihan di luar gedung besar yang aku katakan di awal, tepat di bundaran di depan gedung tersebut. Jam menunjukkan pukul 10 malam. Dan senior menyuruh kami utk running cerita di sana untuk melihat seberapa kuat vokal kami. Sebagai KUNTILANAK yang saat itu sudah menggunakan kostum Ms. K, aku memiliki tugas untuk membuka cerita dengan tawa khas yang dimiliki Ms. K tersebut. Saat akan running, aku melihat ada beberapa Ms. K yang datang mendekat. Mereka mungkin penasaran kenapa ada manusia yang ingin menyerupai mereka. Salah satu dari mereka ada yang mendekat.
“Damn, kalau dideketin begini, gimana gue bisa ketawa” kataku pada temenku di sebelah.
“Eh serius Mik? Ada yang dateng? Dia dimana?” tanya temanku.
“Tuh di depan, di tengah stage.” jawabku.
“Duh gimana dong, dia ngeliatin, gimana gue bisa opening kalau kaya gini, badan gue udah gemeteran gini.” timpalku lagi.

“Okey, Mika. Opening, action” teriak salah satu seniorku yang bertugas menjadi sutradara saat itu.

“HIHIHIHIHI…. HIHIHIHIHIII…. HIHIHIHIHII” tawaku memecah malam yang saat itu sangat sunyi dan dingin membuka running pertunjukan kami. Aku sudah tidak lagi peduli dengan mereka yang semakin mendekat dan mengelilingiku. Sudah tidak lagi peduli ketika mereka berada di depanku saat aku bermain peran menjadi mereka. Tidak lagi peduli ketika mereka sahut menyahut dengan ringkikannya ketika melihatku meniru mereka. Tidak, aku tidak mau peduli. Dan running malam itu pun berjalan sukses. Tanpa seniorku tahu, bahwa peranku ini mengundang mereka untuk datang. Dan malam itu, tidak hanya Ms. K saja yang hadir, bundaran tempatku running penuh sesak dengan sosok lain yang muncul. Tidak lagi sunyi, tapi ramai seperti pasar dengan kehadiran mereka.

Selesai running, aku beristirahat sejenak dan duduk di pinggir trotoar bersama teman-teman lainnya. Hingga…….
“KAMUUU SIIAAAPAAAA?” rintihan suara perempuan terdengar jelas di telingaku dengan hembusan nafas yang dingin, menambah dingin suasana malam itu. Seluruh tubuhku kaku saat itu. Aku tidak berani menoleh ke belakang. Suara rintihan itu terdengar sangat jelas hingga terngiang-ngiang di telingaku. Hembusan nafasnya lebih dingin dari udara malam setelah hujan reda. Dingin. Sangat dingin. Dan menusuk.

Untuk kalian yang membaca cerita ini, jangan pernah menirukan mereka yang berada di kehidupan lainnya. karena bisa saja, saat ini mereka mengikutimu dan jangan heran jika suatu saat mereka akan datang dan berkata “KAMU SIAPAAA?”……

Mata Ketiga #4

download-2
http://veeutiful.deviantart.com/art/Ghost-Family-527372174

Kurang lebih sudah 1 bulan aku menempati tempat baru yang minggu lalu aku ceritakan minggu lalu pada kalian. Bila kalian belum sempat membacanya, kalian bisa baca terlebih dahulu di Mata Ketiga #3. Hingga tulisan ini aku buat, baru minggu lalu kami (aku dan teman-teman penghuni lainnya) sempatkan untuk mengadakan kegiatan syukuran hunian baru.

Acara dimulai kurang lebih pukul 6.20, tepat setelah solat maghrib. Kami bercerita dan menertawakan segala hal tentang apapun yang dibicarakan. Riuh, ramai, hingga acara dibuka oleh salah seorang dari kami. Dimulai dari sambutan ringan, dan harapan untuk keadaan kami ke depannya di hunian baru ini.

Kemudian, tibalah saatnya berdoa menurut kepercayaan dan agama masing-masing. Dengan tujuan, kami bersyukur atas hunian baru ini serta keselamatan kami selama di sini. Suasana mulai tenang dan sedikit sunyi. Saat berdoa dimulai, satu per satu dari “mereka” datang. Dimulai dari “mereka” yang menghuni di lantai 2 hunian kami, hingga “mereka” yang menghuni di bawah tangga menuju lantai 2.

Seorang perempuan datang sebentar saat doa mulai kami panjatkan. Berdiri di balkon dekat jendela, kamudian terbang. Entah siapa dan darimana perempuan tersebut. Laki-laki tua yang pernah aku ceritakan di Mata Ketiga #3 muncul di lantai 2. Awalnya ia hanya mengintip. Namun entah kenapa, aku tidak melihat tanda perdamaian dari matanya. Mata yang menatapku masih terlihat tajam dengan amarahnya. Tidak berani turun ke bawah, ia hanya mengamati kami dari lantai 2.

Suasana sudah kembali mencair dan riuh. Karena kami terlalu heboh dengan apa yang telah disajikan di depan kami saat itu. Namun, ada yang mencuri perhatianku saat itu. “Mereka” yang berada di lantai 2, tidak mau turun ke lantai bawah, di mana acara syukuran hunian baru digelar. Kuberanikan diriku menaiki tangga menuju lantai 2. Ya, walaupun tidak kupungkiri jantungku cukup berdegup untuk berkenalan dengan mereka.

Lantai 2 hunian kami terdiri dari 3 ruangan. Ruangan pertama, pintunya langsung berhadapan dengan tangga. Hemm, tidak ada sesuatu yang perlu dikhawatirkan di sana. “Ia” dapat dikendalikan, sepertinya. Ruangan kedua, persis berada di sebelah ruangan pertama. Ada yang menghuni kolong meja di mana letak printer di letakkan. Dan “seorang” lagi berdiri tepat di pintu kamar mandi yang terletak di pojok belakang ruangan. Tidak ada yang perlu ditakutkan dari “mereka”. Hanya terkadang mereka cukup jahil saja. Saat masuk ke ruangan tersebut, “mereka” lari dan menghilang. Mungkin “mereka” belum siap berkenalan denganku saat itu. Ruangan yang terakhir, ruangan ketiga. Hemmm….cukup menarik sepertinya. Tapi tunggu dulu, khusus untuk ruangan ini, akan kuceritakan di lain waktu yaaaa :p

Malam ini, kami berharap jika hunian baru kami ini bisa bersahabat dengan kami hingga ke depannya..

Mata Ketiga #3

Datang dan menetap di hunian baru bukan perkara yang mudah bagiku kini. Bukan masalah membereskan segala barang untuk kesekian kalinya lagi. Tapi lebih dari itu. Ada hal yang tidak bisa kubagi dengan mudah.

 

Hari ini, pukul 02. siang, tepat di dalam sebuah lift salah satu apartemen di kawasan Jakarta Pusat, aku mulai menerka siapa saja yang akan kutemukan nanti. Siapa yang dapat berkawan denganku. Dan siapa yang akan menjadi ketakutanku.

TRIIIINGGG!!” pintu lift terbuka di lantai 11. Aku berjalan keluar menuju salah satu ruangan yang nantinya akan kutempati. “Nah, ini dia,” gumamku setelah menemukan kamar dengan nomor 6011 di pintunya. Pintu terbuka sendiri dari dalam. Salah seorang temanku keluar dan berkata, “Di dalam ‘panas’ banget”. Spontan, kulangkahkan kakiku beberapa langkah ke belakang. Detak jantungku berdegup kencang. Kutarik nafasku dalam-dalam.

“Bismillah..” ujarku dalam hati. Kulangkahkan kakiku perlahan dan kutengokkan kepalaku sedikit dan ………

“Astagfirullahaladzim!” jeritku. Sesosok laki-laki tua berdiri tepat di dekat tangga menuju ke lantai 2. Dia tidak terlalu tinggi, tetapi badannya hitam legam. Dan matanya tepat menoleh ke arahku. Matanya terbuka lebar. Tajam. Dan merah. Seakan ia marah karena ada orang yang mengusik hidupnya.

Aku memutuskan untuk tidak jadi masuk ke kamar 6011 untuk beberapa saat. Kakiku bergetar, nafasku tersengal. “Sial, ini masih jam 2 siang. Kenapa mereka udah muncul aja sih?” kesalku. Temanku yang melihat tingkahku hanya tersenyum seakan ia tahu responku saat melihat ‘sesuatu’ yang lain.

“Nanti dulu ya, masuknya. Mesti siapin mental dulu nih, gue.” ujarku pada temanku. “Kan gue udah bilang tadi, di dalam panas banget. Dan gue udah feeling kalau lo bakal liat sesuatu,” balasnya. Aku mulai mengatur nafas perlahan lagi. “Yuk masuk.” ujarku.

Saat mau melangkahkan kakiku ke dalam, ternyata beliau sudah ada di samping pintu. Tepat berdiri di serong kananku. Tidak lebih tinggi dari aku memang. Kedua tangannya diletakkan di belakang. Dan ia tepat menatapku yang sedang menunduk. Kepalanya agak sedikit miring. Pandangannya begitu tajam. Merah. Merah. Membara. Seakan ada begitu banyak pertanyaan yang ingin ia lontarkan padaku. Udara sekitarnya terasa begitu panas. Padahal air conditioner sudah dinyalakan. Kemarahannya begitu terasa….

(((Notes : Mata Ketiga akan posting setiap malam Jumat/hari Jumat ya..)))

 

Mata Ketiga #2

Aku kembali. Dari perjalanan yang tak henti-henti. Mencari sejarah yang bisa kuselami. Berkenalan dengan “teman” baru lagi.

Berjalan di lorong sepi. Berhadiah sunyi. Perlahan menapaki bekas jejak-jejak masa silam. Selayaknya berjalan menuju kegelapan dan kelam. Memasuki gerbang demi gerbang. Sejarah masa lampau menyeruak, memasuki ingatan, dan tak mau hilang.

Jerit tangis anak-anak dan perempuan jelas terdengar di telinga. Suara peluru saling berlomba. Wangi anyir darah menusuk-nusuk hidungku. Semua memerah dan suasana makin tegang dan mulai membeku. Pandanganku berlarian tak menentu. Semua orang yang menjerit dan menangis tadi kini menatapku. Mereka kaku. Mereka membeku.

Salah satu dari mereka perlahan berjalan mendekat. Selangkah demi selangkah makin dekat makin lekat. Perempuan separuh baya. Wajahnya pucat pasi tak berdaya. Di perutnya ada bekas luka tembak terbuka begitu saja. Merintih menahan luka. Darah mengucur cukup deras. Bau anyir dan busuk menyeruak tak lekas-lekas.

“To…long… Ahhg… Perut…ku… Sakit…” rintihnya.

Kini aku yang membujur kaku. Tak berdaya membeku. Kini ia berdiri tepat di depanku. Hanya berjarak sepuluh senti dari mataku. Kupaksakan mata memejam. “Jangan. Jangan. Jangan mendekat. Kumohon. Jangan,” kataku dalam hati. Sekuat tenaga kukerahkan. Tak ingin kalah, rasa takut kulawan.

Apa daya. Tubuhku kini terbujur lemas tanpa tenaga. Kaki mulai bergetar menopang tubuh. Keringat dingin bercucuran, aku mengaduh. Mataku tak bisa memejam. Aku hanya bisa mengeram.

Matanya sangat tajam saat menatapku. Aku merasakan darahnya menetes di atas kaki dan mengucur mengaliri bulu kudukku. Tangan kanannya yang dingin dan beku sekarang menggenggam kuat tangan kiriku. Sekejap aliran darah berhenti dan berseru.

—–

Aku terbangun seketika. Hanya setengah tersadar mata kubuka. Kulihat jam menunjukkan pukul tiga. Suasana di luar jendela masih gelap gulita. Perempuan, yang mengaku bernama Dinda itu, kini terbaring di samping muka. Memandangku (lagi) lama.

Sekian.