Mata Ketiga #9

Holaaa!!

Ya ampun, rasanya sudah lama sekali tidak update cerita di blog ini karena pekerjaan yang lagi hecticnya di akhir tahun. Sudah rindu juga menulis di blog sendiri dan sudah banyak yang tagih cerita (hehehehe so sorry :p). Btw, cerita kali ini, aku sedikit mau meneruskan cerita sebelumnya mengenai sosok Anggraeni. Lanjut ya…


Lama sekali rasanya aku membutuhkan waktu untuk mendekati sosok gadis remaja yang sedang mendekati senior sekolahku ini. Anggraeni, itulah nama sosok hantu perempuan pertama yang berani kudekati. Sebelumnya, tidak pernah sekalipun aku berani mendekat hingga berkomunikasi dengan sosok hantu, apalagi hantu perempuan.

Tubuhku bergetar hebat saat pertama kali melihatnya dengan sangat dekat. Apalagi memaksakan diri untuk berkomunikasi dengan beliau. Perlahan aku mendekati sosok beliau yang berjarak tidak lebih dari 2 meter di depanku. Selangkah demi selangkah. Kukepalkan kedua jariku menyembunyikan ketakutanku di hadapan Pak G, yang sedari tadi mendampingiku dan memberikan support agar aku berani untuk berkomunikasi dengan sosok ini agar Kak Dina dapat diselamatkan.

Anggraeni terus menatapku dengan satu mata lantaran mata yang satu lagi tertutupi oleh rambutnya yang panjang terurai dan tak beraturan. Mata itu menatap tajam dan tidak berkedip. Ciyut! Nyaliku ciyut saat menatap matanya. “Sial, kenapa harus pandang-pandangan gini sih.” ucapku dalam hati.   “Jangan lupa ucapkan salam ya, Mika” ujar Pak G dengan suara perlahan memberikan aku instruksi dari belakang. Ku arahkan tangan kananku ke depan sambil tetap melangkah perlahan mengajaknya bersalaman seraya berkata “Hallo Anggraeni. Selamat sore. Assalammualaikum”. Suara yang keluar dari mulutku saat itu tidak kalah bergetarnya dengan tubuhku. Tidak ada sahutan dari Anggraeni. Beliau hanya tetap menatap, membisu, dan sedikit menggerakkan kepala.

“Hallo. Maaf aku mengganggu” ujarku lagi.

“Mau apa kalian” terdengar suara perempuan muda yang sangat pelan dan terdengar lirih serta menyimpan amarah.

“Pak G, katanya dia, kita mau apa di sini” ujarku lagi memberitahu Pak G apa yang disampaikan oleh Anggraeni karena ia tidak bisa berkomunikasi dengan sosok ini.

“Jangan ganggu saya!” teriak Anggraeni lagi.

Pak G mengambil langkah mendekatiku dan Anggraeni dengan langkah pasti dan sambil mengucap doa-doa. “Pergi kamu. Jangan ganggu Dina. Dina ini anak saya. Ini bukan tempat kamu.” kata Pak G dengan suara lantang. Kemudian ia menyuruhku mundur karena melihat tubuhku yang sudah bergetar sangat hebat dan lemas saat itu. Ia memberiku tanda untuk pergi dari tempat itu dan membiarkannya mengusir sosok hantu perempuan ini sendirian.

Aku pergi meninggalkan kamar itu dengan keringat mengucur deras di tubuhku.  Kupikir selesai sudah drama dengan Anggraeni ini. Ternyata belum…..

Kak Dina berteriak-teriak dari dalam kamar. “Dina ini temanku. Aku mau menemani Dina terus. Kasian Dina. Dina kesepian.” teriak Kak Dina tidak sadarkan diri. Pak G terdengar sedang mengusir Anggraeni dari tubuh Kak Dina. Mereka saling berteriak dan Pak G tetap tidak mau mengalah karena memang saat kondisi seperti ini, kita sebagai manusia tidak boleh mengalah dan menuruti sosok hantu yang sedang merasuki.

Selang 20 menit kemudian, sudah tidak terdengar suara lagi. Orangtua Kak Dina masuk ke dalam kamar karena dipanggil Pak G. Kak Dina terlihat sangat lemas dan berkeringat. Pak G memberikannya air yang sudah dibacakan doa dengan tujuan untuk mengembalikan kondisinya ke semula sekaligus memagari tubuh Kak Dina. Aku hanya melihat hal ini dari luar kamar saja karena sudah tidak sanggup lagi berada di dalam sana. Udara sekitar semakin panas, sangat panas malah.

Saat aku berbalik mau berjalan menuju ke ruang tamu yang terletak di samping kamar, tiba-tiba….

“Astagfirullah!!!!!” teriakku.

Sesosok pocong berdiri tidak jauh dariku dengan muka gosong, hitam legam, bekas terbakar, dan bentol-bentol menatapku dari kejauhan. Tingginya tidak lebih dari 2 meter. Baunya sangat menyengat. Bau amis darah dan bekas luka yang terlalu lama dibiarkan hingga membusuk menyeruak di hidungku.

Pak G berlari menghampiriku. Ia segera mengusir sosok pocong tersebut dari hadapanku. Dan ternyata, sosok ini bukan penghuni tetap rumah Kak Dina, ia hanya singgah karena melihat rumah Kak Dina yang saat itu “ramai“. Memang, saat terjadi sesuatu yang berhubungan dengan “mereka” di suatu tempat, banyak sekali yang datang. Mereka memiliki rasa ingin tahu yang tinggi layaknya manusia. Lucu bukan? Bahkan hingga tulisan ini kubuat, aku sudah tidak pernah bertemu Kak Dina. Semoga ia selalu baik-baik saja dengan ‘penjaga’ barunya.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s