Mata Ketiga #8

Selamat malam Jumat lagi, gengs! Malam ini, akan ada yang spesial nih di cerita kali ini. Aku akan menceritakan sosok perempuan yang mengikuti hingga merasuki kakak kelasku, waktu aku bersekolah di salah satu Sekolah Menengah Pertama di Jakarta. Begini ceritanya…

“Mika, kamu ikut saya ya jam 4. Saya sudah minta ijin dengan wali kelas kamu.” ujar seorang guru Matematika di sekolahku, Pak G namanya.

“Ada apa ya, Pak?” jawabku.

“Nanti kita ke rumah Dina, anak kelas 3-3. Orangtuanya butuh bantuan kamu.” Pak G menjawab seraya pergi meninggalkanku yang dihantui pertanyaan.

Tepat pukul 4 sore, aku dan Pak G pergi ke rumah Kak Dina. Rumahnya tidak jauh dari sekolahku, hanya berjarak 300 meter dari sekolah. Sepanjang perjalanan, aku dan Pak G hanya berbincang seputar mata pelajaran di sekolah. Maklum, aku siswa baru saat itu. Mungkin sebagai guru Matematika, Pak G hanya sekadar ingin tahu bagaimana perkembangan pelajaranku di sekolah.

Sejak awal masuk ke sekolah tersebut, Pak G merupakan satu-satunya guru yang dekat denganku. Beliau adalah orang pertama yang mengetahui bahwa aku memiliki anugerah yang berbeda dengan anak-anak lainnya. Tidak seperti guru-guru lain yang memandang sebelah mata terhadapku, bahkan tidak jarang aku mendapat tatapan dan sindiran seakan-akan aku pembohong, Pak G menerimaku selayaknya anak kandungnya. Dan memang hanya Pak G, satu-satunya guru di sekolahku yang memiliki bakat yang sama denganku, hanya sedikit berbeda pada vision kami saja. Jadi hanya ia yang mampu memahami dan mengangani tingkah anehku.

Kurang lebih 10 menit aku berjalan bersama Pak G menuju rumah Kak Dina. Sesampainya di sana aku sedikit terkejut. Ada sesosok wanita yang terbang dari lantai 1 menuju lantai 2 setibanya kami di sana. Rumah bercat putih dengan pohon besar di tengah halaman depan rumah ini memang membuat rumah ini terlihat cukup rindang. Kami disambut baik oleh keluarga Kak Dina. Setelah sedikit berbincang mengenai keadaan Kak Dina kurang lebih 2 minggu ini karena Kak Dina tidak bisa masuk sekolah dengan keadaannya yang tidak sehat dan suka berteriak sendiri, kami diajak masuk ke kamar Kak Dina dan menemuinya.

Kak Dina sedang terduduk di kursi yang berada di pojok kamarnya menghadap ke tembok. Tapi, bukan itu yang menjadi perhatianku. Aku melangkahkan kakiku mundur dari pintu kamar Kak Dina yang sudah terbuka. Ada sesosok wanita yang berdiri di samping Kak Dina. Wanita ini persis seperti wanita yang aku lihat di depan rumah Kak Dina tadi.

Pak G mendekati Kak Dina dan memberikan salam.  “Assalammualaikum, Dina. Ini Bapak dating menjenguk Dina.” salam Pak G. Suasana kamar Kak Dina sangat hening saat itu. Kak Dina tidak menjawab salam Pak G pun tidak menoleh sekalipun.

“Kamu melihat sesuatu di dekatnya, Mika?” tanya Pak G. Pak G tidak memiliki bakat dalam hal vision, tapi beliau bisa membantu menyembuhkan orang yang memiliki gangguan dari mahkluk halus.

“Ada perempuan, Pak. Kayaknya sih sama dengan perempuan yang terbang tadi di depan pas kita sampai. Bapak jangan maju lagi, dia persis berdiri di depan Bapak,” jawabku.

“Baik, kalau begitu kamu bantu Bapak untuk berkomunikasi dengan dia ya.. Assalammualaikum. Kamu siapa? Mengapa mengganggu anak saya?” Tanya Pak G kepada sosok perempuan yang berdiri di depan Pak G.

“Anggraini…” jawab sosok perempuan itu lirih. Mendengar suaranya saja membuatku merinding. Lirihannya menggema di kamar Kak Dina. Sayang, hanya aku saja yang dapat mendengar suara tersebut. Sosok Anggraini tadinya hanya menunduk dan memperlihatkan sebagian matanya saja. Tapi setelah menyebutkan namanya, perlahan-lahan ia mulai menunjukkan wajahnya. Wajahnya sangat kacau. Darah menetes dari sebagai besar wajah hingga lehernya. Bajunya sangat lusuh penuh bercak darah dan tanah. Rambutnya sangat kusut dan terurai hingga mencapai ke perutnya. Tatapannya sangat tajam. Matanya sangat mencerminkan kesedihan dan kemarahan yang amat sangat.

“Aaaaarrrrrgggghhhhh!!!!!!” tetiba Kak Dina berteriak dan menangis. Dan saat itu juga aku tidak melihat sosok Anggraini. Pak G dengan sigap langsung mendekati Kak Dina dan membuatnya tenang dengan ayat suci Alquran yang dibisikan ke kupingnya. Jujur, saat itu aku bingun harus bagaimana. Aku sangat takut masuk ke kamar Kak Dina, tetapi dalam hati aku juga ingin membantu Pak Gita menenangkan Kak Dina yang saat itu memberontak dan berteriak-teriak.

Tiba-tiba….

“Pergi kamu!” bisik perempuan dengan suara lirih terdengar jelas di telinga kananku. Bulu kudukku berdiri. Aku terpaku. Seluruh tubuhku bergetar. Aku takut saat itu. Aku merasakan ada seseorang yang berdiri di samping kananku. Ragu-ragu, aku menoleh ke kanan, dan….

MATA ANGGRAINI TEPAT DI DEPAN MATAKU. MATA MERAH ITU TAJAM MENATAPKU. BAU AMIS DARI DARAHNYA PUN SANGAT MENYENGAT MENUSUK HINDUNGKU….

“Aaaaarrrgggghhhh!!!” aku berteriak dan kemudian tidak sadarkan diri, hingga terbangun di kamarku beberapa jam setelah kejadian tersebut.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s