Mata Ketiga #5

Btw, kalian sudah baca tentang hunian baru yang kutempati di part sebelumnya? Kalau belum, melipir dulu yuk, biar kalian bisa mengerti part ini dan seterusnya.

Mata Ketiga #1

Mata Ketiga #2

Mata Ketiga #3

Mata Ketiga #4

Hingga saat ini, belum ada kejadian yang cukup membuatku merasa perlu meninggalkan tempat ini secepatnya memang. Semua masih dalam batas wajar dan aman saja kok (ini efek blog di-share sampai ke grup Jepang, jadi nulisnya yang baik-baiknya saja ya, hahaha). Untuk part #5 ini aku tidak akan menceritakan mengenai situasi hunian baruku ini ya. Hemm, ada yang lebih menarik dari tempat ini, yaitu lingkungan sekitarnya.

Ya, hunian baruku ini terletak di lantai 11 sebuah apartemen di kawasan Jakarta Pusat yang gedungnya bersebelahan dengan sebuah mal yang tidak terlalu besar. Untuk dapat menuju ke lantai 11, kita dapat menggunakan lift yang hanya bisa diakses dengan kartu khusus penghuninya. Jadi, bisa dibilang bahwa sebenarnya gedung ini terbilang cukup sepi, kecuali di lantai dasar. Suasana lorong-lorong di lantai 11 pun sepi. Jarang sekali aku melihat ada orang berlalu-lalang di lantai ini dengan ramai. Paling hanya 1 atau 2 orang saja. Itu juga karyawan dari kantor lain yang letaknya di lantai 11 atau petugas gedung. Waktu pagi hari saja, sudah sunyi. Jadi kebayang dong kalau sudah sore atau malam hari bagaimana?

Jadi, sempat beberapa kali aku pulang di atas pukul 6 sore. Setelah solat maghrib, aku bersiap-siap untuk pulang. Suasana lorong sangat sepi kala itu. Bahkan sepertinya aku bisa mendengar jejak langkahku sendiri walaupun di atas karpet. Sejujurnya, aku sangat tidak menyukai suasana seperti ini. Di mana aku harus berjalan sendiri di suatu tempat yang sangat sunyi. Aku mempercepat langkahku menuju lift. Saat itu, lift terasa cukup jauh untuk kutempuh. Dari kejauhan, kulihat ada seorang bapak berjalan tertatih dengan sepatu yang biasa dipakai oleh tukang bangunan (tidak tahu apa namanya, tapi bukan sepatu boots). Sudah kuduga, sepertinya ia menuju ke arahku. “Please, jangan sekarang. Please,” gumamku dalam hatri sambil terus mempercepat langkahku. Bapak itu pun mempercepat langkahnya dengan tertatih. Hembusan nafas dan rintihannya jelas terdengar. “Sedikit lagi sampai lift, Mik. Ayo cepat!” ujarku dalam hati.

Sesampainya di depan lift, aku semakin gelisah. Angka di lift masih menunjukan di angka 20 dan 17. Panik, kutekan-tekan terus tombol turun. Aku tidak mau menolehkan pandanganku ke manapun. Kutundukkan kepalaku dan terus berdoa di dalam hati. Suara langkah dan rintihan bapak itu semakin jelas terdengar. Semakin dekat. Dekat. Dan sangat dekat.

“TRIIINGGGG!” suara pintu lift terbuka. Buru-buru saja kulangkahkan kakiku masuk ke dalam lift dan menekan tombol  dengan huruf G, yang menunjukkan lantai dasar. Pintu lift perlahan-lahan mulai menutup dan…… “Aaaaakkkkkk!” teriakku. Kulihat tangan berkeriput seolah-olah ingin menghalangi pintu lift yang tertutup. Bapak tadi berada persis di depan lift karena sempat kulihat wajahnya yang menunduk di sela-sela pintu lift yang akan tertutup.

“Huft! Untung dia nggak bisa masuk,” gumamku. Dan baru kusadari bahwa saat itu hanya aku sendiri di dalam lift. Dan hingga saat ini, kalian sudah tahu alasanku untuk menghindari pulang malam dari kantor.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s