Mata Ketiga #1

“Astaghfirullahaladzim!” jeritku dalam hati. Sosok wanita berbaju putih, lusuh, dan dengan keadaan yang kurang baik itu mengagetkanku di depan pintu. Matanya yang tajam dan hanya terlihat bagian mata kanannya saja serta senyum yang meringai itu membuatku bergidik.

 

(20 menit yang lalu)

Tugasku belum selesai. Masih ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan hari ini. Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Dan aku masih duduk di bangku di ruang kerjaku yang terletak di lantai 20 di sebuah gedung perkantoran di selatan Jakarta.

Namaku Tannya. Ya, sebut saja begitu. Aku bekerja di sebuah perusahaan swasta yang bergerak di bidang eksport dan import di Jakarta. Sebagai staf marketing, di akhir bulan harus ada laporan penjualan barang yang harus aku buatkan untuk segera diberikan ke manajerku. Dan lembur sudah menjadi suatu kebiasaan di saat begini, seperti hari ini.

Beberapa teman lain sudah pulang sejak pukul 7 malam tadi. Dan di ruangan ini, sisa aku, dan seorang temanku yang juga masih bergelut dengan laporan-laporannnya.

“Nya, kamu sudah isya?” tanyanya padaku.

“Ya ampun, aku sampai lupa solat isya. Kamu sudah ya? Ya sudah, aku solat dulu ya. Kalau mau pulang, tungguin aku dulu, sebentar lagi laporanku selesai kok,” jawabku.

Segera aku bergegas pergi ke mushola kecil yang disediakan di setiap lantai di gedung ini. Mushola tersebut terletak di luar kantorku. Karena memang, gedung perkantoran ini terdiri atas satu hingga tiga perusahaan di setiap lantainya. Office boy kantorku masih duduk di mejareceptionist di depan pintu menunggu seluruh karyawan pulang. Dan lorong kantor begitu sepi karena hanya ruang kantor saja yang masih menyalakan lampu. Gelap, sunyi, dan hening sekali. Berbeda dengan suasana di siang hari yang ramai hilir mudik pegawai kantor.

Mushola kantorku terletak persis di samping pintu kamar mandi wanita. Dan setelah selesai solat, aku menyempatkan untuk buang air kecil terlebih dahulu. Saat itu suasana kamar mandi sangat hening. Yang terdengar hanyalah suara air yang keluar dari selang dan closet.Perasaanku mulai tidak nyaman. Dan waktu pun terasa sangat lambat. Selesai buang air kecil, aku merapikan hijabku di depan kaca, masih dengan perasaan aneh yang berkecambuk. Udara makin terasa dingin di sana. Padahal aku tahu, kamar mandi di gedung perkantoran ini tidak memiliki ac di dalamnya. Bulu kudukku mulai berdiri.

Selesai merapikan hijabku, aku berjalan perlahan menuju pintu keluar kamar mandi. Suara langkahku bahkan terdengar jelas karena heningnya suasana di kamar mandi ini. Rasa tidak nyaman yang aku rasakan makin kuat. Degup jantungku makin berdetak cepat. Kubuka perlahan pintu kamar mandi, dan…..…..

Astaghfirullahaladzim!” jeritku dalam hati. Sosok wanita berbaju putih, lusuh, dan dengan keadaan yang kurang baik itu mengagetkanku di depan pintu. Matanya yang tajam dan hanya terlihat bagian mata kanannya saja serta senyum yang meringai itu membuatku bergidik. Ia berdiri tepat di hadapanku. Tidak kurang dari satu meter. Tinggi badannya lebih tinggi sedikit dariku. Baju putihnya sangat lusuh bahkan hampir terlihat seperti coklat muda. Banyak bercak darah di sekitar perut. Kedua tangannya terjatuh lemas hingga terlihat seperti tanpa tulang.

Aku berhenti sesaat. Tidak bisa berteriak dan berlari. Tidak tahu harus bagaimana. Keringat dingin mengucur deras sekujur tubuhku. Kakiku bergetar hebat. Detak jantung tidak terkontrol degupnya saking cepatnya. “Aku harus lari. Cepat. Cepat. Cepat,” jeritku dalam hati.

Kulangkahkan kakiku yang bergetar ini. Namun, tetiba saja kakiku terasa berat. Bersusah payah aku berjalan menuju kantorku yang sebenarnya hanya berjarak 5 meter dari pintu kamar mandi. Entah kenapa saat itu kantorku rasanya sangat jauh. Aku berjalan seperti tidak sampai juga. Sekuat tenaga kulangkahkan kakiku dengan langkah yang cepat. Dan pintu kantorku sudah di depan mata. Sedikit lagi sampai. Dan tetiba….. “JLEB”….. semuanya gelap.

Ketika membuka mata dan tersadar, hari sudah terang. Dan aku berada di sebuah ruangan dengan botol infus yang menggantung di samping kananku dan jarum suntik yang menempel di pergelanganku. Ternyata semalam aku pingsan tepat di depan pintu kantor. Pak Bagyo, office boy kantorku, dan Alif, teman kantorku, segera membawaku ke rumah sakit terdekat karena takut terjadi apa-apa denganku. Dan wanita itu, masih berdiri tepat di depan pintu kamarku sekarang, saat aku menyelesaikan tulisan ini tepat pukul 00.15 WIB.

Atau bisa jadi, sekarang ia berada di depan pintu kamarmu…..

Advertisements

One thought on “Mata Ketiga #1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s